Selasa, 13 Juli 2010

Listrik Sampah

PLTS ini selain bisa memasok kebutuhan listrik Jawa Bali yang kini mulai kritis, juga akan membebaskan Kota Bandung dari “darurat sampah” yang pernah menyesakkan napas warganya.

SAMPAH yang sempat menjadi persoalan yang cukup merepotkan bagi pemerintah maupun masyarakat Kota Bandung, sudah mulai digarap secara serius. Selain Bapenas dan Meneg Lingkungan Hidup turun tangan ikut membantu memecahkan persoalan sampah, kini perguruan tinggi ternama di Bandung, (ITB) juga sudah menyatakan minatnya membantu memecahkan persoalan sampah Kota Bandung, dengan akan membangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS).

Selain sudah menyiapkan dana Rp 200 juta untuk melakukan kajian kelayakan dan desain pembangkit listrik itu, Rektor Institut Teknologi Bandung, juga sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dalam kerja sama itu, di antaranya PLN sudah siap untuk membeli listrik yang dihasilkan PLTS yang dikembangkan ITB. Bahkan Plt Dirut PLN Djuanda Nugraha Ibrahim, menargetkan tahun depan, listrik sampah itu sudah dihasilkan.

PLN dan ITB sama-sama mempunyai kepentingan dalam hal pengolahan sampah. Rektor ITB, Djoko Santoso mengatakan projek ini merupakan projek yang menjanjikan dan dapat dijamin keberlangsungannya. ITB, telah menyiapkan dana Rp 200 juta untuk melakukan studi kelayakan pembangunan PLTS. Bagi ITB, projek PLTS ini merupakan kesempatan bagi ITB untuk membuktikan bahwa lembaganya tidak hanya pandai dalam teori, tapi bisa menciptakan teknologi pengolahan sampah menjadi listrik.

Yang cukup menggembirakan, investor yang berminat dalam pengolahan listrik sampah ini cukup banyak. Artinya Pemerintahan Kota Bandung, tidak perlu khawatir projek ini tidak jalan. Selain investor PT BRIL yang memang sudah mengingat kerja sama dengan pemkot, juga ada investor lain, termasuk perusahaan dari Singapura, juga berminat untuk menanamkan investasinya dalam pengolahan sampah ini. Perusahaan yang akan terlibat dalam pembangunan PLTS ITB nanti, selain PLN, juga PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Barata, PT PAL, PT Pindad, dan PT Basuki Pratama Engineering.

Energi yang dihasilkan dari PLTS nanti, juga cukup lumayan, mencapai 30 megawatt (MW). Memang biaya untuk membangun pembangkit listrik ini cukup besar, mencapai Rp 11 miliar per MW. Artinya kalau PLTS nanti kapasitasnya 30 MW, berarti biaya yang dibutuhkan kira-kira Rp 330 miliar. Namun, jika melihat manfaat dan hasil yang akan diperoleh dari projek PLTS ini, tampaknya masalah dana bisa dikesampingkan.

PLTS ini jika sudah menghasilkan tenaga listrik, bisa memasok kebutuhan listrik Jawa Bali yang kini mulai kritis. Walaupun belum parah, cadangan listrik Jawa Bali sudah mulai terlihat kurang. Salah satu tandanya, pada pertengahan bulan ini sempat terjadi pemadaman di wilayah Jabotabek, sehingga sempat merepotkan banyak pihak. Selain itu, PLTS ini juga akan membebaskan Kota Bandung dari “darurat sampah” yang pernah menyesakkan napas warganya.***

Diambil dari:

http://www.pln-jabar.co.id/berita_media_det.php?id=1055

Posted in energi sampah Tagged: Bandung, energi sampah, ITB, pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga sampah, pengolahan sampah, PLTS, sampah

0 komentar:

Poskan Komentar